Puisi

entah sudah dalam hitungan keberapa ribu malam,
aku memejamkan mata di kamar ini
di kelilingi dinding beku beralaskan kasur bisu
menanak mimpi dalam katup mata di bara harap
dengan sentuhan ganas takdir sebagai penentu.
*
entah sudah berapa banyak mimpi
mendidih dalam tungku kesabaran
meluap dalam panas api amarah
hingga terkadang gosong
terpanggang keputus asa-an
**
maka malam ini aku ingin terjaga, mengemas semua rasa
suka, duka, tangis, tawa, harapan dan secuil kekecewaan
selama 6tahun di kamar ini,
kedalam koper kenangan dan menyeretnya esok pagi menuju ke tanah air
kembali dalam dekapan keluarga dan orang tercinta.
***
11-July-2011
by Siti Muslikah 

 

TIBA-TIBA INGIN BERMANJA

Tiba-tiba jadi ingin bermanja

menggelayut di pundakmu agar beban ini tak kurasakan sendiri.

Agar pening ini menenmu tempat,

biar tak melompat-lompat.

Ah, pundakmu itu…

kenapa harus berada jauh disana,

di bentangan laut yang penuh dengan belut yang bertaut?

Ah, tak apalah jika tak menenemu pundak.

Jika bisa diganti, gantilah dengan suara.

Aku ingin bercengkrama,

memadu lagi hangatnya rindu yang penuh irama.

Tapi suara,

kenapa lamat yang terdengar hanya desah bisu di raga handphone yang tak bernyawa?

Hah!

kemanakah harus aku berlari,

jika dari balik jendela hanya kutemui semu yang terhembus dari angin kelam?

Hanya padang sunyi yang terhampar tanpa tikar.

Pun pada kedua kaki,

telah terlilit rantai rasa yang kian membuatku berat melangkah jauh

By  Siti Muslikah 

 

malam-malam dalam penantian

wajah malam masih tetap kelam

dengan garis temaram

menyilang di bentangan bayang

dari samar cahaya yang ingin memberi terang

 

dendangan malam masih mengalunkan sepi

menari dengan lenggok resah dalam raga yang diam

menepis keluh  jiwa yang seketika menyusupi

hakikat rasa yang telah tumbuh tertanam

 

kita telah sama-sama melukis harap

pada lembaran wajah malam

agar bulan segera bersinar di langit hati

mengusir gulita dalam sendirii

 

juga menyanyikan syair-syair padu

di dendangan paling sunyi

agar langkah kita segera menyatu

menapaki jalan beralaskan kebersamaan

 

sebulan lagi

saat jarak telah terlipat….

dan kitapun tanpa sekat

saling menjerat

dalam ikat.

 

Siti Muslikah 

Suka ·  · Bagikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s